Pages

Wednesday, April 7, 2010

Sepenggal kisah di suatu padang

Di saat lidahku tak lagi bisa bergerak

Di saat itu lah tanganku yang berbicara, dia membeberkan segala yang telah ia lakukan

Untuk apa ia digunakan, kemana ia diarahkan, apakah mendukung kebaikan atau kemaksiatan?

Tanganku berbicara dengan lancar bak air sungai bebas hambatan, jujur, tegas tanpa tedeng aling

Setelah tanganku berkoar-koar, giliran kakiku

Ia bercerita kemana ia melangkah, apakah mendekati surga atau menjauhinya sejauh jauhnya

Ia jujur, tegas tanpa tedeng aling

Keringat dingin kembali menetes, bukan menetes tepatnya, mengucur deras, mengingat matahari hanya sejengkal diatas kepala ku

Panas dan tegang

Berkali kali aku mencoba menelan ludah, namun mulut ku kering kerontang tanpa cairan ludah

Lalu menyusul telinga bercerita tentang apa yang ia dengar, perkataan baikkah atau burukkah yang sering didengar

Ia tegas, jujur tanpa tedeng aling

Kulihat neraca tampak berat sebelah kearah lubang hitam, rasanya panik dan ingin berlari dari tempat ini, namun kakiku kini diluar kontrol diriku

Berat

Sangat berat

Lalu mata mulai bercerita tentang apa-apa yang ia saksikan dialam fana sana, baik burukkah yang ia liat

Timbangan pun kembali bergeser kearah lubang hitam

Matahari seperti makin mendekat ke arah tengkukku

Sekarang giliran kelamin yang berbicara

tentang apa yang ia lakukan didunia dulu, apakah diperbudak nafsu atau menjaga kehormatan dan kesucian

Ia berbicara jujur tegas tanpa tedeng aling

Timbangan pun kembali bergeser, namun menjauhi lubang hitam itu, terus bergeser-bergeser

Menjauh

Makin menjauh

No comments:

Post a Comment